3D Workspace
Home
Assets
Affiliate Program
Sign up/Log in
?
Upgrade
DCC Bridge
Anonymous1761800259
10-31 08:16
Model Name
model 3d anak laki-laki
Tags
anak
character
character game asset
character game asset stylized
character stylized
game asset
game asset stylized
orang
stylized
Prompt
Buat video animasi 3D untuk anak-anak dengan cerita iniSANG PIATU Sang Piatu tinggal di hutan dan jauh dengan orang atau kerabat lainnya. Dia tidak mempunyai orang tua lagi. Oleh karena itu dia terpaksa tinggal bersama dengan neneknya yang sudah sangat tua. Pada suatu hari neneknya berkata "Hai Sang Piatu nampaknya kau ini sudah besar, maka sudah layak untuk mencari istri. Hanya saja dalam mencari istri, jangan kau cari istri yang banyak bicara, cari la istri yang pendiam supaya tidak banyak pekerjaan." Mendengar kata neneknya itu, Sang Piatu akan menuruti kata neneknya. Oleh karena cucunya yang baik hati, maka segala perintah neneknya dituruti semua. Pada suatu hari sang Piatu berkata, "Kalau demikian besok pagi-pagi nenek bangun, memasak nasi, panaskan air, serta masak sayur sebab aku mau makan pagi." Neneknya menjawab, "Baiklah!" Besok paginya setelah Sang Piatu selesai makan ia langsung pamitan dengan neneknya. Maka berjalanlah Sang Piatu masuk hutan ke luar hutan, masuk rimba ke luar rimba. Dan setelah lama berjalan bertemulah dengan rumah Raja. Di rumah itu, dilihatnya orang sangat ramai lalu,. beliau berkata, "Mengapa orang ramai-ramai di sini" Di antara mereka itu ada seorang yang menjawab. "Kami ini sedang ditimpa musibah karena anak Raja kami bernama Bateri meninggal dunia." Melihat keadaan yang demikian Sang Piatu berkata, "Mayat itu janganlah dikuburkan, biarlah saya . yang membelinya." Setelah diajukannya permohonan maka Raja pun setuju atas permintaan Sang Piatu. Mendengar perkataan raja lalu Sang Piatu menghadap sambil berkata, Setelah mendengar keputusan Raja itu maka mayat itu dibungkus dengan kain putih lalu dibawanya pulang melalui hutan-hutan, padang alang-alang dan belantara yang lebat. Setelah lama berjalan maka sampailah Sang Piatu ke gubuknya dengan membawa mayat yang telah dibungkus tadi. Melihat hal itu neneknya heran, lalu berkata, "Apa yang kau bawa itu Piatu?" Mendengar itu Sang Piatu terkejut, lalu mayat tadi di sembunyikannya ke balik pintµ kamar. Oleh karena neneknya tadi ingin tahu,. maka dia bertanya lagi;'Tempo hari kau mencari istri dan apa yang kau sembunyikan itu?" Sang Piatu menjawab, "Istri saya ada di dalam kamar?" Mendengar kata Sang Piatu itu diperiksa oleh neneknya. Setelah diperiksa terlihatlah terbujur tubuh mayat yang dia tidak kenal. "Kata nenek aku harus mencari orang pendiam. Orang ini adalah orang pendiam, dia belum pernah bicara sejak sampai di rumah kita. Lantas Neneknya berkata : "Kau adalah orang bodoh kenapa kau sampai membawa mayat ke sini?. Mayat ini harus dikubur" "Apa sebenarnya mayat itu dan apa pula tanda-tandanya" Neneknya menjawab, apabila orang itu sudah berbau busuk" Tidak lama berselang maka neneknya kentut, dan berbau busuk. Oleh karena neneknya berbau busuk Sang Piatu langsung menuduh nenek sudah meninggal dan jadi mayat. Kata neneknya, "Hai Sang Piatu, aku ini belum mati." Sang Piatu menjawab; "Memang betul-betul nenek sudah mati. Aku ingat kata-kata nenek dulu, bahwa setiap orang yang busuk itu sudah mati, kalau begitu nenek akan dikuburkan.” Mendengar kata-kata itu neneknya menjerit-:ierit ketakutan karena tak ingin dikuburkan oleh Sang Piatu. Sang Piatu terus mencari linggis, skop buat untuk penggali lobang di belakang rumahnya. Setelah selesai penggalian, maka neneknya dibawa kedekat pelobangan itu akan dikuburkan secara hidup-hidup. Lalu dikuburkannyalah dengan Sang Piatu Neneknya tadi ke dalam lobang tersebut dan terus ditimbunnya sampai tidak kelihatan lagi. Sesudah itu sudah agak lama berselang maka Sang Piatu sendiri kentut dan beliau berkata sendirian. "Kalau begini aku ini sudah mati." Setelah dia bilang bahwa dirinya sudah mati, maka dibawalah cangkul satu, linggis satu, lalu menggali lobang dekat kuburan neneknya. Setelah selesai menggali lobang, Sang Piatu masuk ke dalam lobang tersebut, ditimbun kaki timbul kepalanya, ditimbun kepala timbul kakinya. Begitulah seterusnya. Oleh karcna pekerjaannya itu merasa tidak berhasil, maka ia berpikir hendak membuat rakit batang pisang, di sekitar rumahnya itu ada sungai. Maka rakit batang pisang tadi terus diletakkannya ke air tersebut dan langsung beliau naik ke atas rakit batang pisang tersebut. Lalu berlayar mengharungi air sungai itu. Setelah lama berlayar itu maka bertemulah dengan mangga yang sedang berbuah, lalu berkata, "Hai mangga alangkah enaknya memakan kau itu, kalau Sang Piatu masih hidup pasti buahmu akan aku habiskan." Selesai berkata tadi ia terus lagi berlayar. Lama kelamaan bertemu pula dengan buah kemang yang sedang masak, lalu ia berkata pula, "Hai kemang kalau Sang Piatu ini masih hidup tentu buahmu itu akan kuhabisi semuanya, tapi sayang Sang Piatu ini sudah mati." Begitulah seterusnya sampai dia lelah mengarungi sungai itu. Setelah lama berlayar mengarungi sungai tadi maka bertemulah dengan perampok enam orang yang pekerjaannya siang malam hanya merampok. Perampok itu memanggil, "Hai mengapa kamu berlayar terus menerus ini, dan siapa nama kamu?" Sang Piatu menjawab, Nama saya Sang Piatu, saya ini sudah mati." Kemudian Perampok itu menjawab, "Kamu orang bodoh, kamu masih hidup, Sang Piatu." "Kalau demikian saya ingin turut kamu saja," kata Sang Piatu. "Akan tetapi ada syaratnya, harus kamu turuti peraturan-peraturan kami," kata perampok itu, "Baik akan saya turuti dan akan saya patuhi." Jawab Sang Piatu. Pada malam pertama mereka berkumpul dan bermupakat ingin mencuri kambing, lantas Sang Piatu bertanya. "Kambing itu apa tanda-tandanya?" Komandan perampok itu menjawab. "Kambing itu tanda-tandanya adalah bulunya panjang, baunya busuk." "Ya baik'', kata Sang Piatu. Selesai mupakat mulai berjalan untuk mencuri kambing. Sedang berjalan kawan-kawan Sang Piatu tadi sudah dapat semua kambing, sedangkan Sang Piatu mengintip harimau. Setelah didekatinya harimau itu terus menerkamnya. Sang Piatu menjeritjerit dicekik harimau itu, dan minta tolong sehingga orang di rumah Raja terbangun semuanya. Setelah itu Sang Piatu dapat melarikan diri, dan terus menemui kawan-kawannya yang enam orang tadi di gubuk tempat peristirahatannya. Setelah sampai di gubuk kawannya yang enam orang bertanya, "Hai Sang Piatu mana hasil curian kamu?" Kata Sang Piatu, "Saya tidak dapat mencari kambing, saya sendiri hampir mati mau menangkapnya, leher saya dicekiknya kuat-kuat. Untung-untung saya masih dapat melarikan diri." Jawab orang enam itu, bahwa yang kamu tangkap tadi adalah harimau. Setelah itu tujuh orang tadi bermupakat lagi lalu komandannya berkata, "Kita akan mencuri kantong wang raja." Sang Piatu bertanya, "Tanda-tanda kantong wang Raja itu apa?" Jawab komandan, "Tandanya putih, bulat, besarnya sebesar kepala." Sesudah bermupakat maka malam itu juga tujuh orang berangkat. Setelah berjalan sebentar sang Piatu berpisah dengan enam orang ini, lalu ia berjalan sendirian. Sebentar berjalan maka kelihatanlah oleh Sang Piatu benda yang bersinar-sinar putih, bulat, sebesar kepala. Lalu Sang Piatu dekati. Setelah didekatinya, dan terus dipegangnya benda yang bersinar-sinar tadi. Setelah dipegang, menjerit-jeritlah Raja, namun Sang Piatu masih terus memegang. Sesudah itu Raja melawan dan terns diterjangnya Sang Piatu. Sang Piatu terus melarikan diri dan,terns pulang. Dengan adanya kejadian ini maka Raja kecemasan dia berkata penyakit apa yang datang dengan saya ini. Setelah itu Raja terus memukul gendang larangan untuk mengumpulkan rakyat banyak. Maka berkumpullah semua masyarakat ke rumah Raja, laki-laki, perempuan, besar, kecil, tua ataupun muda tanpa terkecuali. Maka Raja mulailah bermupakat dengan orang banyak itu. Raja bercerita dengan orang banyak, "Aku tadi malam didatangi penyakit, leher saya dicekiknya, sehingga aku hampir mati dibuatnya. Kini aku bertanya dengan kalian ini, siapa yang menjadi dukun di antara kalian?" Di antara orang banyak itu menyebutkan si A yang ahli tentang kedukunan. Maka mulailah Raja berkata, "Kamu dukunkan apa yang mengganggu aku tadi malam." Maka dukun ini berkata, "bahwa yang mengganggu Raja malam tadi adalah penyakit, karena Raja ada kesalahan, maka kita harus bertobat ke keramat." Maka mulailah orang banyak tadi beserta Raja ke keramat. Perampok tujuh orang tadi pergi duluan cepat-cepat ke keramat, dan setelah sampai di keramat itu tujuh orang ini langsung naik di atas kayu keramat itu. Belum lama setelah itu rombongan Raja sampai pula di keramat tersebut. Maka setelah sampai rombongan Raja ini, mulailah bekerja melaksanakan tugas masing-masing. Bagi yang gadis-gadis mulailah masak-masak bagi yang lain bertugas pula sesuai dengan perintah Raja. Setelah nasi, gulai, serta sayur-sayur lain sudah . dihidangkan, maka Sang Piatu di atas kayu itu berak dan kencing. Maka Dukun tadi berkata . lagi kepada Raja. "La ila haillah Raja, alangkah besamya kesalahan raja ini, bahwa yang seperti tai dan air kencing yang datangnya dari atas tadi hal itu yang menyebabkan kesalahan Raja". Maka dukun itu berkata kepada Raja bahwa benda yang berupa tai dan air kencing itu tadi harus diminum Raja. Maka belum lama setelah itu Sang Piatu dari atas kayu itu mau berdendang. Maka kata kawan Sang Piatu "Jangan Sang Piatu! Kita, mati dihancurkan orang dari bawah itu." Tapi Sang Piatu tidak mengacuhkan dan berdendang keras-keras: Maka kedengaranlah orang di dalam keramat itu. Sejak terdengar suara yang keras itu, berlarilah semua orang dalam keramat tadi sambil ketakutan. Setelah rombongan raja ini berlari semuanya, maka ketujuh orang ini tadi langsung turun dari atas kayu tersebut. Setelah sampai ke bawah dilihatnya ada, banyak makanan, banyak minuman uang pun banyak, lalu makan besarlah mereka. Maka waktu makan pesta besar itu Komandan perampok ini berkata, "Hai anak buahku kita berhenti mencuri sebab kita sudah kaya segala sesuatu sudah ada semuanya. Kita harus menjadi orang yang alim."
Detailed Info
Related Models
Enter invite code
Enter invite code to get credits!